04.22.08

The New Baby in Town

Ditulis dalam Kritikan pada 4:57 pm oleh andika mongilala


Jco

I really admire Johny Andrean for his entrepreneurship skills. We have all witnessed how he has been so successful in the hairstyle business, and then brought Singapore’s brand BreadTalk to Indonesia where he ‘learns’ the retail business inside and out. And now, what he’s doing with J.CO I can say is very excellent. With no advertising at all, J.Co’s brand is now talk of the town. I hear it by myself from him while I attended the opening J.Co’s new store at Cilandak Town Square, last Sunday (March 19), I saw by my own eyes how people were lining up in a 20 m queue, standing for about an hour to just to get donuts.

That’s why I invited him to guest-speak at my monthly workshop last Saturday, this time entitled Branding that Sells.

Geisha

Hpim0337
Yes, I consider J.Co as the perfect case study of Branding that Sells. The Donuts and Coffee shop now has five outlets and each time it opens a new one, it manage to breakeven in just three months. And also J.Co applies what I call the Customer-Centric Branding concept…very engaging and experiential. It evens bring the J.Co Experience to my workshop…. free donuts and coffee for the participants…..

Hpim0336

Hpim0340

Hpim0339

Saya dkk berhasil datangkan UNGU di FE UNSRAT

Ditulis dalam Kritikan pada 4:30 pm oleh andika mongilala

kegiatan kerjasama antara Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsrat dengan Pihak Telkomsel benar-benar menghebohkan warga Fekon dan Unsrat, berkat keduanya mendatangkan Grup Band Ungu yang lagi ada di Papan I band Indonesia di Fakultas Ekonomi Unsrat dengan hadir kelima personil ungu tersebut membuat semua warga Fekon dari Mahasiswa dan dosen benar-benar Histeris, acara ini di adadakan di Ruangan Kambuna yang saat itu sudah tak bisa menampung seluruh penonton yang sampai berjumlah 2000-an mahasiswa. menurut saya yang saat itu dipercayai sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsrat yang didampingi Ketua dan Sekretaris Panitia masing-masing  sdr Steady Dumondor dan  Einstein Rantung, bahwa kegiatan ini adalah wahana Refresing bagi mahasiswa setelah menyelesaikan kegiatan Midsemester, maka setelah selesai dipanggil bergoyang dan bernyanyi bersama Band kenamaan Ungu, dan Juga sebagai hadiah serta Apresiasi yang setingi-tingginya Untuk mahasiswa fakultas Ekonomi Unrat karna tetap mendukung seluruh Program-program saya selama saya menjabat Ketua Senat Mahasiswa fakultas ekonomi Unsrat.sementara saat itu Ungu Membawakan tembang-tembang manado, Tembang bersama Dekan Fakultas Ekonomi Unsrat Prof.Lotje Kawet.SE.MS yang didampingi Oleh Pembantu-pembantu dekan lainnya. kegiatan ini dilaksanakan dan dimulai tepat pukul 10.00 pagi dan berakhir pukul 11.30 di ruang kambuna 23 April 2008.

04.20.08

Jembatan Harapan

Ditulis dalam Kritikan pada 8:32 am oleh andika mongilala

Sore itu perasaan Gedok sedang sangat kelam. Sepulang dari kerja ia langsung menyelonong masuk ke rumah dan berbaring di ranjangnya. Bagaimana perasaannya tidak kelam, dia sedang menanggung hutang ratusan juta rupiah!?!

Setahun yang lalu dia meminjam uang kepada beberapa relasi dekatnya. Bunga dari pinjaman tersebut dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Gedok menggunakan uang tersebut untuk membuka sebuah café. Bisnisnya berjalan lancar sekali, pengunjung café tersebut semakin banyak dan dia terus menambah fasilitas café-nya untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi.

“Saat ini uang laba masih saya putar untuk mengembangkan café.” kata Gedok pada temannya yang waktu itu bertanya mengapa Gedok tidak membeli mobil. Tapi tiba-tiba sebulan yang lalu café itu terbakar habis. Ludes semua! Bahkan Gedok masih harus membayar beberapa perabot yang baru saja diantarkan minggu sebelumnya. Gedok panik dan takut tidak bisa membayar hutangnya pada kerabatnya. “Tidak enak hati. Tapi saya harus katakan saya belum bisa membayar hutang-hutang saya. Entah kapan bisa membayarnya, saya sama sekali tidak punya uang!” panik Gedok dalam hati.

Gedok adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan asing. Gajinya sedang-sedang saja, justru karena itulah ia membuka bisnis café untuk meningkatkan taraf hidupnya. Tapi ternyata musibah kebakaran itu terjadi. Rasa gundah tentang bagaimana caranya bisa membayar hutang-hutangnya menghantui setiap menit hari-harinya. Menyiksa! Bahkan niatan bunuh diri sempat terlintas di benaknya. Dalam keadaan setengah tidur dan setengah sadar, Gedok merasakan dirinya berada di sebuah pantai yag indah. “Sungguh, padahal saya waktu itu sedang tidur-tiduran di ranjang saya!” cerita Gedok pada pacarnya. “Saya berdiri membelakangi lautan yang sedang tenang di suasana sore hari yang teduh.

Tiba-tiba di hadapan saya berdiri banyak orang dalam formasi setengah lingkaran. Mereka terlihat begitu damai dan berwibawa. Ada yang memakai jubah putih panjang dengan jenggot dan rambut putih, ada yang memakai jas seperti seragam jenderal, ada wanita yang seperti peri, pokoknya mereka terlihat seperti malaikat yang ada di film-film! Dan mereka semua memandangi saya dengan senyum yang kalau kamu lihat akan membuat kamu damai.” lanjut cerita Gedok pada pacarnya. Gedok mengatakan seolah mereka sudah mengetahui permasalahan yang terjadi dalam hidup Gedok. Kemudian mereka berkata pada Gedok sambil menunjuk ke arah kanan atas, “Lihatlah ke lembah impian yang tercapai…” Lalu Gedok melihat ke sisi kirinya, “Di atas lembah di sebelah kiri langsung muncul gambaran film. Dan yang menjadi layarnya yang lebar itu adalah langit biru yang teduh.

Di film itu saya melihat saya sedang duduk di sebuah kantor. Mereka berkata – “Itulah kamu sedang berada di kantor pribadi kamu. Kamu adalah pemilik beberapa cabang café yang tersebar di seluruh kota.” – Saya bilang ke mereka boro-boro saya menjadi pemilik perusahaan itu, toh sekarang saya sedang dililit hutang dan tidak tahu kapan bisa membayarnya.” Kemudian para malaikat itu menunjukkan gambar-gambar lainnya. “Lalu saya melihat kamu di layar itu. Kamu sedang mengajar di hadapan para mahasiswa. Kamu terlihat sangat percaya diri dan menguasai materi yang kamu bawakan. Setelah itu saya melihat gambar ayah yang sedang mengawasi sebuah supermarket. Kemudian ada gambar ibu tapi tubuh ibu terlihat begitu langsing dan dia sedang mengelola sebuah restoran.”

Para malaikat mengatakan, “Itulah masa depan kalian, impian yang tercapai.” Gedok menjawab, “Tapi sekarang ayah saya hanya memiliki toko sederhana. Tiap malam ia hanya menonton TV dan tertidur di sofa sampai acara TV selesai. Ibu saya gemuk lagipula ia hanya ibu rumah tangga yang sekali-kali membantu ayah di toko. Sedangkan saya saat ini sedang terlilit hutang, entah bisa bangkit atau tidak. Mana mungkin itu adalah masa depan kami?” Tiba-tiba muncul sebuah pijakan di depan Gedok diikuti siluet jembatan melengkung yang mengarah ke lembah impian yang tercapai. “Kebanyakan dari kalian tidak pernah melanjutkan hidup. Kallian hanya terpaku di tempat. Atau bahkan kalian membuat jembatan ke arah yang berlawanan. Ayah dan ibu kamu membangun jembatan ke arah yang berlawanan.

Coba kamu renungkan apa yang mereka selalu utarakan?” tanya salah seorang malaikat berjenggot putih pada Gedok. “Ayah sering bilang rejeki sudah dipatok dan mustahil dia menjadi kaya karena orang tuanya dulu pun mengatakan hal yang sama.” Lalu muncul gambaran ayahnya di samping Gedok dengan pijakan-pijakan jembatan yang mengarah ke arah sebaliknya. “Kamu lihat kan, pikiran dan ucapan ayah kamu membuat jembatan ke arah yang berlawanan? Begitu juga yang terjadi dengan ibumu, dia tidak pernah mengembangkan potensinya. Makanya jembatan mereka mengantar mereka ke kehidupan sekarang ini, bukan ke masa depan yang semestinya menjadi potensi mereka.

Sedangkan kamu hanya terpaku di tempatmu saja.”"Bagaimana lagi? Saya sudah tidak tahu lagi harus ngapain. Sudah ludes semua!”"Buatlah harapan. Harapan akan membuat kamu tetap hidup. Saat ini apa yang paling kamu harapkan?”"Saya hanya berharap saya bisa berbicara dengan baik-baik dengan kerabat saya dan menegosiasikan perpanjangan waktu untuk membayar hutang-hutang saya.” Tiba-tiba muncul sebuah pijakan di hadapan Gedok. “Apa ini?” tanya Gedok.”Jembatan harapan mulai terbangun. Jembatan ini terbuat dari harapan. Dan harapan akan membuat kamu tetap hidup.” Kemudian Gedok terbangun dengan masih terngiang kata “Harapan akan membuat kamu tetap hidup” di pikirannya. “Saya bermimpi, tapi mimpi itu nyata banget!” kata Gedok menutup percakapannya dengan pacarnya.

Dalam hidup kadang kita dihadapkan pada situasi yang membuat kita depresi dan sangat tertekan. Di saat seperti itu seolah tidak ada jalan keluar yang bisa ditemukan. Maka kata bunuh diri bisa terngiang di pikiran dan terdengar menjadi satu-satunya solusi. Tapi ada satu hal yang perlu kita ingat, di hadapan kita selalu terdapat berbagai potensi masa depan terbaik yang bisa kita capai dalam hidup ini. Jika saya memprogresi para klien saya ke masa depan mereka, mereka akan melihat potensi masa depan mereka begitu mengagumkan.

Dan masa depan yang dimunculkan oleh alam bawah sadar itu adalah masa depan yang sangat mungkin diraih karena itu merupakan projection dari segala potensi/talenta yang ada di dalam diri kita.Ada sebuah cerita ilustrasi di mana seorang anak perempuan remaja selalu melihat gambaran-gambaran yang tersorot dari dahi setiap orang. Anak perempuan itu kemudian menanyakan hal tersebut pada mamanya, “Mom, apa sih gambaran-gambaran yang selalu aku lihat di depan dahi setiap orang?” Jawab mamanya, “Oh, itu adalah masa depan mereka yang tercipta dari pikiran, ucapan dan tindakan mereka. Tapi nak, coba kamu lihat gambaran-gambaran yang ada di atas kepala mereka.

Itulah masa depan terbaik yang semestinya bisa mereka raih. Kamu lihat di dahi pemuda itu tersorot dia akan meninggal akibat HIV/AIDS karena kemarin dia baru saja berhubungan seksual dengan salah seorang wanita pengidap HIV+ yang dia temui di pesta. Padahal kamu lihat, kan, di atas kepalanya ada gambaran dia sedang memandang gedung pencakar langit miliknya yang dia namakan sesuai namanya?”

Selalu ada potensi masa depan terbaik yang sedang terbentang di hadapan kita yaitu di lembah impian yang tercapai. Dan impian itu bisa kita capai dengan membangun jembatan harapan langkah demi langkah. Pacar saya, Gunawan, mengatakan jembatan harapan itu adalah planning yang kita buat dalam meraih goal kita. Tapi saya lebih suka menyebut jembatan itu adalah harapan-harapan yang kita buat dimulai dari posisi kita sekarang sampai ke impian terindah kita. (Bisakah Anda melihat perbedaan pola pikir kami?

Gunawan adalah dominan otak kiri yang selalu merasionalkan segala hal dan saya adalah dominan otak kanan yang selalu mengikuti hati dan keindahan). “Apa pun boleh hilang. Asal jangan hilang harapan” (kata-kata ini saya kutip dari kartu nama seorang guru spiritual yang saya kagumi)(dan saya menambahkan) karena harapan membuat kita tetap hidup.

04.19.08

8 ETOS Kerja

Ditulis dalam Kritikan pada 3:13 am oleh andika mongilala

Bekerja sama dengan


8 Etos Pendongkrak Gairah Kerja! (Jangan Cuma “5-Ng”)

Jakarta, Selasa

Kirim Teman | Print Artikel

Berita Terkait:
Resep untuk Mencapai Sukses …
Mendongkrak Karier Sampai Ke Puncak
Kunci Keberhasilan Kerja Sama dalam Tim

Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.

Punya masalah dengan semangat kerja? Jangan gundah gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya!

Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot. “Itu lumrah,” kata Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma Mahardika, Jakarta. Meski lumrah, “impotensi” kerja harus diobati.

Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja Profesional”. Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.

Memahat yang tak terlihat

Etos pertama: kerja adalah rahmat.

Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.

Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.

Etos kedua: kerja adalah amanah.

Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.

Etos ketiga: kerja adaah panggilan.

Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma. Seperti darma Yudistira untuk membela kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk membantu orang sakit. Seorang guru memikul darma untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang kebenaran kepada masyarakat. Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.

Etos keempat: kerja adalah aktualisasi.

Apa pun pekerjaan kita, eutah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa pekenjaan.

Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja, misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa pede ketika berjumpa koleganya. “Perkenalkan, nama saya Miftah, dari Bank Kemilau.” Keren ‘kan?

Etos kelima: kerja itu ibadah.

Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata. Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti ini:

Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang. Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat? Ia menjawab, “Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi Tuhan bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah berubah menjadi motivasi transendental.

Warisan tak ternilai

Etos keenam: kerja adalah seni.

Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun, semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi. Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.

“Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,” katanya. Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.

Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.

Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita.

Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.

Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.

Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Bagi kebanyakan orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km! Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.

Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras yang giat membela kepentingan orang-orang yang teraniaya.

“Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik,” kata Jansen. Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).

Pilih cinta atau kecewa

  • Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di semua pekerjaan.

“Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya, orang bekerja itu ‘kan hanya untuk nyari gaji. Padahal pekerjaan itu punya banyak sisi,” katanya.

Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 – 40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan Tuhan. “Manusia itu makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ‘kan waktu yang sangat lama,” tambahnya.

Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada pekerjaan. Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan. Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya dengan benar. “Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala kekurangannya,” kata sarjana Fisika ITB yang lebih suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.

Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh “5-ng”: ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel. Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, “It’s not doing the thing we like, but liking the thing we have to do that makes life happy.”

“Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu duri,” ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos ini.

Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan.

Bukan gila kerja

  • Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.

Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas. Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa pekerja keras dan ulet.

Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali berbeda dengan workaholic. Pekerja keras bisa membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.

Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah memujinya jika ia menunjukkan prestasi.

Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras, toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada dasarnya manusia menyukai reward.

Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus. Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu karyawan pun yang bakal terkena PHK.

Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja keras. Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk menjual. Hasilnya benar-benar ruarrr biasa. Mereka bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan terkuat di Jepang.

Ketenangan amat penting sebelum kita memikirkan masalah itu kembali.”by Andika Mongilala,SE

Ditulis dalam Kritikan pada 3:05 am oleh andika mongilala

Suatu pagi, seorang guru berdiri di hadapan kelas sambil mengangkat segelas air. Dia bertanya kepada murid-muridnya;

Cuba kamu teka, berapa berat gelas ini?”

Jawab murid yang duduk di hadapan kelas: “50 gram, cikgu!”

Guru tersebut tersenyum. “Yang lain?” sooalnya.

“Saya rasa mungkin 100 gram,” jawab seorang pelajar perempuan.

Bangun pula seorang pelajar lelaki di tengah-tengah kelas, “Jawapannyan mesti antara 50 hingga 500 gram.

Siapakah yang berjaya memberi jawapan yang betul? Adakah berat gelas itu 200 gram? 300 gram? 410 gram? atau 100 gram?

Jawab gurunya, “Jawapan kamu mungkin betul dan mungkin juga salah!

Sebenarnya, berat segelas air ini tidak begitu penting sebab ianya bergantung kepada berapa lama kamu memegangnya.

“Jika kamu pegang gelas ini satu minit, tak jadi masalah. Kalau satu jam, tangan kamu akan sakit. Sehari! Kamu perlu diusung ke ambulans.” Ketawa murid-muridnya mendengar kata- kata guru itu.

Sambung guru tersebut; “Murid-murid sekalian… berat segelas air ini takkan berubah tapi semakin lama kamu memegangnya, ia akan menjadi semakin berat.Apa yang patut kamu lakukan ialah letakkan gelas itu ke bawah, rehat beberapa minit dan sambungnya kembali.

“Begitu juga dengan kehidupan seharian kita. Jika kita ada masalah, selesaikannya secepat mungkin. Kalau kita masih gagal menyelesaikannya, rehat sebentar. Lupakan masalah itu untuk seketika.

“Jangan terlalu memikirkannya kerana ia akan menyebabkan fikiran kita tidak tenang dan terganggu. Ketenangan amat penting sebelum kita memikirkan masalah itu kembali.”

Menarik! Ini yang terlafaz di mulut saya setelah saya membaca email yang saya terima pagi ini. Kiriman dari YahooGroups yang pernah saya sertai. Masalah, jika di fokuskan kepada masalah, memang tidak berjumpa penyelesaian. Kalau anda buntu, rehatkan minda anda, kemudian kembali cari penyelesaiannya )

Maksud ayat supaya jangan terlalu memikirkan masalah sebenarnya adalah kerana sifat manusia yang tidak fokus pada penyelesaian. Menciptakan ketenangan di dalam fikiran adalah penting. Kenapa? Untuk perlahan-lahan membulatkan fokus anda kepada penyelesaian. Selagi minda anda memikirkan masalah, memang masalah yang sentiasa membarahi pemikiran dan tindakan anda. Tenangkan diri, berehat sebentar dan cari penyelesaiannya ) Sebegitu mudah. Lantas kenapa ramai tidak mampu melakukannya? Kerana TABIAT yang telah tersemai. Anda perlu sentiasa berusaha mengikis tabiat lama dan semaikan tabiat baru yang fokus pada penyelesaian. )

Halaman berikutnya