11.23.08
Flegmatik
Orang-orang flegmatik memiliki sifat yang tenang, suka damai, santai, suka melawak dan tidak suka konfrontasi. Sifat-sifat ini membuat mereka disenangi banyak orang. Keinginan mereka untuk berdamai sering lebih besar dari keinginan mereka untuk memiliki apapun. Abraham dengan sangat jelas sekali menunjukkan sifat ini ketika gembala-gembala ternaknya dan gembala-gembala ternak Lot mulai saling bertengkar. Abraham mengusulkan suatu penyelesaian dengan berkata kepada Lot, “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukanlah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” (Kej 13:8-9).
Sama dengan temperamen-temperamen lain yang mempunyai kelemahan di samping kekuatan-kekuatannya, orang yang bertemperamen flegmatik juga mempunyai beberapa kelemahan. Ternyata sifat cinta damai mereka juga mengakibatkan mereka menjadi orang-orang yang pasif dan tidak tegas dalam mengahadapi pertentangan. Dan sifat cinta damai ini juga yang membuat pria yang bertemperamen flegmatik cenderung dikuasai atau menurut kepada isteri-isteri mereka. Abraham seorang tokoh Alkitab yang sangat kuat dengan temperamen flegmatik. Di dalam Alkitab kita bisa melihat dengan jelas ketundukan Abraham kepada Sara, isterinya. Ketika Sara menyuruh Abraham untuk mengambil Hagar hambanya, kemudian atas suruhan Sara, Abraham harus mengusir Hagar dengan Ismail, walaupun Abraham sangat mencintai Ismael.
Selain kelemahan-kelemahan tersebut di atas, orang-orang yang bertemperamen flegmatik juga seorang insisiatif untuk mendorong dirinya, mudah menyerah, sering mengabaikan pekerjaan mereka dengan santainya dan cenderung menjadi keras kepala, kikir, kuatir atau takut. Kelemahan-kelemahan ini membuat mereka enggan memulai suatu kegiatan, dan sebaliknya mencari alasan supaya tidak terlibat dalam kegiatan orang lain, dan ketakutan-ketakutan mereka membuat mereka tidak berani menggunakan potensi yang mereka miliki dengan sepenuhnya.
Namun demikian, bukanlah suatu hal yang mustahil bagi Allah untuk memperkuat kelemahan-kelemahan dari orang-orang flegmatik ini. Dalam Kejadian 12 dengan jelas kita dapat melihat sifat penakut dari Abraham, namun dalam Kejadian 22 kita menemukan Abraham yang sama yang tidak memiliki rasa takut tetapi memiliki iman yang teguh kepada Allah (Ibrani 11:17-19).